The Potential Threat of U.S. Intervention in Indonesia as a Consequence of the South China Sea Conflict: A Case Study of Indonesia’s Maritime Security
DOI:
https://doi.org/10.36080/jsgs.v4i1.66Keywords:
The South China Sea conflict, the Cold War, the US interventionAbstract
Abstract: The South China Sea conflict implies the return of the Cold War era with the upheaval between two major powers, there are the United States (US) and China. Unlike the Cold War, which was driven by ideological battles, the South China Sea Conflict is driven by geopolitical and economic battles. China is experiencing rapid economic growth with its ability to control trade routes in the South China Sea. This disturbed the US as an old power in the Asia Pacific region. Then, the conflict escalated with the construction of military bases along the South China Sea region to Indonesia. China itself has dared to submit the Nine Dash Line claim over 90% of the South China Sea area followed by the construction of military bases, two of them in Subi Reef and Fiery Cross Reef.The impact is the US feels threatened because international shipping lanes in the South China Sea will be fully controlled by China. This article aims to discuss US retention of China's increasing power in the South China Sea which has the potential to become a trigger for US intervention in Indonesia as an effort to counteract the pace of development of China's power. In preparing this article, a descriptive qualitative method based on literature studies was used. The data used in the preparation of this article is literature data derived from three kinds of sources, there are scientific articles, textbooks, and news articles or mass media. This study identifies indications and potential pathways of US strategic penetration which in the future has the potential to invite Chinese resistance so as to make Indonesia a new conflict field between the US and China.
Abstrak: Konflik Laut China Selatan menyiratkan akan kembalinya era Perang Dingin dengan adanya pergolakan antara dua kekuatan besar yakni Amerika Serikat (AS) dan China. Berbeda dengan Perang Dingin yang dimotori oleh pertarungan ideologi, Konflik Laut China Selatan dimotori oleh pertarungan geopolitik dan pertarungan ekonomi. China mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat dengan kemampuannya menguasai jalur perdagangan di Laut China Selatan. Hal itu mengusik AS sebagai kekuatan lama di kawasan Asia Pasifik. Akibatnya konflik meningkat dengan pembangunan pangkalan-pangkalan militer di sepanjang kawasan Laut China Selatan hingga mengarah ke wilayah Indonesia. China sendiri telah berani mengajukan klaim Nine Dash Line atas 90% wilayah Laut China Selatan yang diikuti dengan pembangunan pangkalan militer di Subi Reef dan Fiery Cross Reef. Akibatnya AS merasa terancam karena jalur pelayaran internasional di Laut China Selatan dapat dikuasai China sepenuhnya. Adapun artikel ini bertujuan membahas retensi AS terhadap peningkatan kekuatan China di Laut China Selatan yang berpotensi menjadi trigger bagi intervensi AS di Indonesia sebagai upaya menangkal laju perkembangan kekuatan China. Dalam penyusunan artikel ini digunakan metode kualitatif deskriptif yang berbasis studi literatur. Data yang digunakan dalam penyusunan artikel ini merupakan data literatur yang berasal dari tiga macam sumber yakni artikel ilmiah, buku teks, dan artikel berita atau media massa. Kemudian dilakukan koding dari data-data yang telah dikumpulkan dan disimpan, hingga diperoleh hasil bahwa terdapat ancaman intervensi AS di Indonesia yang dikemudian hari berpotensi mengundang resistensi China sehingga menjadikan Indonesia sebagai medan konflik baru antara AS dengan China.
Downloads
References
.Adjie, H. (2020, January 9). Fiery Cross Reef – Pangkalan Militer Terpadu dan Modern Cina, Hanya Berjarak 405 Mil Laut dari Natuna. Retrieved July 9, 2025, from indomiliter.com: https://www.indomiliter.com/fiery-cross-reef-pangkalan-militer-terpadu-dan-modern-cina-hanya-berjarak-405-mil-laut-dari-natuna/
Bevins, V. (2020). Metode Jakarta: Amerika Serikat, Pembantaian 1965, dan Dunia Global Kita Sekarang. Jakarta: MarjinKiri.
Budiman, A. (2014). Implementasi Politik Luar Negeri Bebas Aktif pada Masa Demokrasi Terpimpin 1959-1965. CAKRAWALA, 5(2), 149-157.
Dwiguna, A., & Syaroni, M. (2019). Rivalitas Amerika Serikat-Tiongkok di Laut China Selatan dan Pengaruhnya Terhadap Indonesia. Jurnal Kajian Stratejik Ketahanan Nasional, 2(2), 151-162.
Hidayat, J. (2024, January 29). Bakamla-AS resmikan pusat pelatihan maritim di Batam. Retrieved July 12, 2025, from antaranews.com: https://www.antaranews.com/berita/3937059/bakamla-as-resmikan-pusat-pelatihan-maritim-di-batam
Kuswara, Y. (2019). Evaluasi Fungsi Kontra Intelijen Indonesia Dalam Menghadapi Spionase Intelijen Asing. Jurnal Kajian Stratejik Ketahanan Nasional, 2(2), 120-134.
Manguwesio, V. (2024). Free & Open Indo-Pasific Sebagai Grand Strategy as Dalam Peningkatan Perekonomian PNG. Jurnal Niara, 17(2), 506-514.
Nicastro, L., & Tilghman, A. (2024). U.S. Overseas Basing: Background and Issues for Congress. Congressional Research Service. Retrieved from https://crsreports.congress.gov/
Parama, A., & Citra, R. (2023, April 26). Ketegangan AS–China dan Risiko Perang di Asia Timur. Retrieved July 9, 2025, from kompas.id: https://www.kompas.id/baca/riset/2023/04/25/ketegangan-as-china-dan-resiko-perang-di-asia-timur
Prunckun, H. (2010). Handbook of Scientific Methods of Inquiry for Intelligence Analysis. United Kingdom: Scarecrow Press.
Puspaningrum, B. (2021, July 20). China Bangun “Tembok Besar” Baru di Laut China Selatan Dilengkapi Pangkalan Militer Besar. Retrieved July 9, 2025, from kompas.com: https://www.kompas.com/global/read/2021/07/20/191027970/china-bangun-tembok-besar-baru-di-laut-china-selatan-dilengkapi-pangkalan
Putra, R. (2022, May 23). Dinamika Politik Indonesia dalam Konteks Perang Dingin dan Pasca Perang Dingin. Retrieved July 9, 2025, from kompasiana.com: https://www.kompasiana.com/ryanputra6682/628b38db15834727220ba182/dinamika-politik-indonesia-dalam-konteks-perang-dingin-dan-pasca-perang-dingin?page=1&page_images=1
Roosa, J. (2008). Dalih Pembunuhan Massal : Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto. Jakarta: Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI).
Safitri, I. (2014). Pemberian Bantuan Amerika Serikat kepada Somalia sebagai Bentuk Pembendungan Kekuatan Cina di Afrika. Jurnal Analisis HI, 257-276.
Setiyadi, B., & Keliat, M. (2020). Kontra Intelijen Aksi Spionase Siber Terhadap Anggota Democratic National Committee Menjelang Pemilihan Presiden AS Tahun 2016. Jurnal Kajian Stratejik Ketahanan Nasional, 3(1), 5-18.
Slamet, S. (2025). Fenomena Penegakan Hukum Perairan Laut Indonesia. Bogor: UNHAN RI Press.
Soedarmo, R., & Ginanjar. (2014). Perkembangan Politik Partai Komunis Indonesia (1948-1965). Jurnal Artefak, 2(1), 129-138.
Sucipto, H. (2013). Kontroversi G 30 S. Yogyakarta: Palapa.
Sudiro, P., & Ponto, S. (2025). Kecacatan Materiil dalam Upaya Pembentukan Lembaga Tunggal Keamanan Laut. Kayyis Mulia: The Journal of Indonesian Constitution and Administrative Law, 01(01), 70-79.
Swastika, K. (2017). Peran Central Intelligence Agency (CIA) dalam Peristiwa Penggulingan Presiden Sukarno Tahun 1955-1968. Jurnal Pendidikan dan Humaniora, 55(1), 1-12.
Timeline 1900s - 2000s. (n.d.). Retrieved from history.uscg.mil: https://www.history.uscg.mil/Complete-Time-Line/Time-Line-1900-2000/
Weiner, T. (2008). Membongkar Kegagalan CIA : Spionase Amatiran Sebuah Negara Adidaya (3rd ed.). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.






